Kubakar Cintaku

Posted by Unknown Jumat, 31 Mei 2013 0 komentar


Kubakar cintaku
Dalam hening nafasMu
Perlahan lagu menyayat
Nasibku yang penat

Kubakar cintaku
Dalam sampai sunyiMu
Agar lindap, agar tatap
Dari hujung merapat

Rinduku terbang
Menembus penyap bayang
Rinduku burung malam
Menangkup cahaya: rahasia bintang-bintang

Kucabik mega, kucabik suara-suara
Betapa berat Kau di sukma
Agar Hati, agar sauh di pantai
Sampai juga di getar Ini


Oleh : Emha Ainun Nadjib


Read More..

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Posted by Unknown 0 komentar
 

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir


Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lamBisshowab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana



-1987-
Oleh: KH. Mustofa Bisri
Read More..

Puisi Untuk Ibu

Posted by Unknown Selasa, 28 Mei 2013 0 komentar


Ibu...
Malam tadi telah kupanjatkan doaku
Telah kusungguhkan untukmu ibu
Mungkin Tuhan menyenanginya 
Sehingga hatiku terasa akrab denganNya

Ibu...
Saat semua tak ada dan tak bisa
Tak harus kucari pelukanmu
Tak harus kutunggu doa-doamu
Bahkan bentangan bumi serasa tak berarti

Ibu...
Kehangatan kasih itu selalu nyata terasa
Mengalir deras

Ibu...
Detak-detik waktu membuatku rindu akan rahimmu
Tak perlu nada yang berlebihan
Irama jantung itu begitu indah dan dirindu
Dipelukanmu kubisa kembali merasakannya

Ibu...
Bulan dan langit yang kutatap malam ini
Adalah bulan yang sama dengan yang diatas rumah kita

Ibu...
Aku telah biaskan kasih dan rindu ini pada langit
Telah kutitipkan salamku untukmu pada bulan dan bintang
Dan kubisikan pada hembusan angin

Terimakasih ibu...
Untuk pahit getir yang kau tempuh untukku
Begitu tegas waktu menyita masa
Mengambil cerita-cerita
Meremasnya menjadi kenangan-kenangan

Ibu...
Karena ibu aku ada

Ibu...
Semua tak akan lahir tanpamu

Ibu...
Rindu dan doa terbaik selalu untukmu


Terukku Ibu di sana, meskipun kau telah tiada namun kasih sayangmu tetap nyata kurasa
Semoga engkau selalu dalam lindunganNya, selalu dalam dekapanNya
Read More..

Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu

Posted by Unknown 0 komentar


Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya


Ketika anak-anak disuruh 
menyanyi di depan klas satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu 
bersama-sama

Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia


Dan kau kini entah dimana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali
Bersamamu

Indonesia tanah air beta...
Pusaka abadi nan jaya...
Indonesia sejak dulu kala...
Selalu dipuja-puja bangsa...
Disana tempat lahir beta...
Dibuai dibesarkan bunda...
Tempat berlindung di hari tua...
Sampai akhir menutup mata...

Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu

Indonesia air mata kita...
Bahagia menjadi nestapa...
Indonesia kini tiba-tiba...
Selalu dihina-hina bangsa...
Disana banyak orang lupa...
Dibuai kepentingan dunia...
Tempat bertarung berebut kuasa...
Sampai entah kapan akhirnya...

Sayang, dimanakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu



Rembang, 2000

Oleh: A. Mustofa Bisri






Read More..

Bermalam di Hutan Pulau Sempu

Posted by Unknown Sabtu, 25 Mei 2013 0 komentar

Cerita ini berawal ketika saya dan delapan orang teman berencana untuk mengisi libur akhir semester ke luar daerah, sekitar pertengahan bulan Februari 2012 silam. Dan kamipun memutuskan pergi ke Pulau Sempu tepatnya di danau Segara Anakan yang terletak di wilayah kota Malang. Jujur saja sebelumnya diantara kami semua tidak ada yang pernah pergi ke sana, kami hanya mengandalkan informasi melalui internet dan bertanya kepada orang-orang yang pernah ke Pulau Sempu. 

Kami berangkat dengan jumlah sembilan orang yang terdiri dari enam orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Awal perjalan kami dari Jakarta menuju kota Malang berjalan sesuai rencana. Hingga kami tiba ke Pasar Tumpang dan memutuskan untuk menyewa sebuah mobil guna mengantarkan kami ke pantai Sendang Biru. Setelah merapikan barang bawaan dan memasukan semua perlengkapan ke dalam mobil, kamipun berangkat menuju pantai sendang Biru. 


Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan panorama alam yang luar biasa indahnya. Setelah lama mengahbiskan waktu dijalan salah seorang teman menanyakan kepada sopir sopir yang kami sewa beserta mobilnya berapa lama waktu sampai ke pantai Sendang Biru. Namun ternyata sopir tersebut tidak begitu mengetahui rute menuju pantai Sendang Biru tempat tujuan kami. Hingga berjam-jam lamanya kami baru sampai di tempat tujuan pada sore harinya karena sebelumnya kami sempat "nyasar" terlebih dahulu.

Untuk menyingkat waktu akhirnya kami putuskan segera mengurus perizinan, maklum Pulau Sempu merupakan pulau konservasi yang tidak boleh sembarang orang pergi kesana kecuali untuk tujuan penelitian. Dengan berbagai pertimbangan kami putuskan untuk jalan secara berombongan tanpa memakai jasa seorang pemandu jalan. Lalu dengan menyewa sebuah perahu nelayan kami diantarkan menuju ke Teluk Semut yang merupakan ujung dari Pulau Sempu. Menurut info yang kami peroleh, perjalanan dari Teluk Semut menuju Segara Anakan memakan waktu sekitar 2-3 jam. 


Perjalanan yang sebenarnya baru akan kami mulai, trek yang menantang dengan jalanan berlumpur menjadi hambatan utama kami. Namun setelah ± 3 jam berada ditengah hutan kami tak jua sampai ke tempat tujuan, dan hal yang paling diluar dugaan terjadi. Salah seorang teman perempuan kami tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Entah apa yang terjadi dengannya, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya gatal-gatal dan memerah. Setelah berdiskusi, kami putuskan untuk istirahat dan memasang tenda ditengah hutan sembari memberikan pertolongan kepada teman kami tersebut. Malampun semakin larut, kami putuskan untuk bergantian berjaga di sekitar tenda untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Maklum Pulau Sempu merupakan pulau yang tak dihuni oleh manusia kecuali binatang buas semacam panther, kucing hutan, dan monyet liar.

Sepanjang malam berjaga kami terusik oleh suara-suara aneh,  menurut salah satu teman kami suara tersebut berasal dari monyet liar yang berencana untuk mengambil barang perbekalan kami. Lalu untuk mencegahnya kami mematikan obor yang menyala agar tidak diketahui keberadaan kami oleh monyet liar tersebut. Dan akhirnya setelah fajar menjelang teman kami yang tadinya sakit mulai berangsur-angsur lebih baik. 


Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju danau Segara Anakan dan tidak berapa lama kamipun sampai. Sungguh keindahan alam yang luar biasa, segala rasa lelah kamipun terbayar akan pemandangan yang disuguhkan. Segara Anakan berbatasan langsung dengan Samudera  Hindia, karena sebenarnya air danau tersebut berasal dari air laut Samudera Hindia. Air tersebut masuk melalui lubang besar pada sebuah karang di tebing bagian tenggara, sehingga saat ombak masuk air akan terlihat begitu indah bak semburan sang Naga. Di Segara Anakan kita masih bisa mendengar suara debur Samudera Hindia menghantam tebing curam di sisi selatan Pulau Sempu. Dan jika kita naik ke atas tebing di sisi Segara Anakan maka akan terlihat hamparan Samudera Hindia yang amat luas. Ini merupakan pengalaman yang tidak akan dapat saya lupakan seumur hidup. 


Penulis : Rudi Albaany
Read More..

"jangan diam"

Posted by Unknown Rabu, 22 Mei 2013 0 komentar

Read More..

children bathing in the river

Posted by Unknown Minggu, 19 Mei 2013 0 komentar

Read More..

old farmer

Posted by Unknown 0 komentar

Add caption

Read More..

"Geliat Usaha Mebel di Kota Depok"

Posted by Unknown Sabtu, 18 Mei 2013 0 komentar
        Meski di kenal dengan julukan kota Belimbing, kota Depok juga memiliki potensi yang besar dalam bidang furniture dan meubel. Salah satunya adalah perusahaan meubel jati Susan Gallery, sudah lebih dari 14 tahun sejak pertama kali didirikan oleh sang pemilik Marwah Ali Ashary perusahaan ini menjadi salah satu penopang perekonomian di kota Depok. 
      Meubel jati Susan Gallery dibuat langsung oleh para pekerja di Jepara yang masih dalam bentuk setengah jadi untuk kemudian diolah, baik dari proses pengamplasan hingga finishing yang kesemuanya dilakukan di kota Depok. Produknya pun tidak hanya di pasarkan di wilayah Depok saja, meubel jati buatan Susan Gallery juga sudah beredar luas hingga ke jabodetabek bahkan sampai ke luar pulau jawa. 
        Hal ini tak lepas juga dari minat masyarakat terhadap meubel jati yang semakin baik, mengingat selain memiliki ukiran klasik dan modern juga lebih tahan lama dibandingkan dengan perabot kayu biasanya. Meubel jati bisa bertahan 20 hingga 50 tahun dan tidak mudah di makan rayap yang menjadi keunggulan perabot ini dibandingkan dengan perabotanlainnya. Inilah yang menyebabkan sehingga para pengolah meubel kayu jati yang mayoritas pakerjanya berasal dari luar daerah memilih untuk bekerja di wilayah kota Depok yang mereka anggap potensial. 
       Dibalik indahnya ukiran serta tahan lamanya meubel tersebut ada mesin-mesin serta orang-orang tangguh yang tiap harinya bekerja, itu semua tak lain hanya untuk memenuhi akan kebutuhan bahan baku dalam pembuatan meubel yang pada akhirnya menghiasi ruang tamu, ruang kerja sehingga akan tampak mewah"




Read More..

Total Tayangan Halaman