Bermalam di Hutan Pulau Sempu

Posted by Unknown Sabtu, 25 Mei 2013 0 komentar

Cerita ini berawal ketika saya dan delapan orang teman berencana untuk mengisi libur akhir semester ke luar daerah, sekitar pertengahan bulan Februari 2012 silam. Dan kamipun memutuskan pergi ke Pulau Sempu tepatnya di danau Segara Anakan yang terletak di wilayah kota Malang. Jujur saja sebelumnya diantara kami semua tidak ada yang pernah pergi ke sana, kami hanya mengandalkan informasi melalui internet dan bertanya kepada orang-orang yang pernah ke Pulau Sempu. 

Kami berangkat dengan jumlah sembilan orang yang terdiri dari enam orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Awal perjalan kami dari Jakarta menuju kota Malang berjalan sesuai rencana. Hingga kami tiba ke Pasar Tumpang dan memutuskan untuk menyewa sebuah mobil guna mengantarkan kami ke pantai Sendang Biru. Setelah merapikan barang bawaan dan memasukan semua perlengkapan ke dalam mobil, kamipun berangkat menuju pantai sendang Biru. 


Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan panorama alam yang luar biasa indahnya. Setelah lama mengahbiskan waktu dijalan salah seorang teman menanyakan kepada sopir sopir yang kami sewa beserta mobilnya berapa lama waktu sampai ke pantai Sendang Biru. Namun ternyata sopir tersebut tidak begitu mengetahui rute menuju pantai Sendang Biru tempat tujuan kami. Hingga berjam-jam lamanya kami baru sampai di tempat tujuan pada sore harinya karena sebelumnya kami sempat "nyasar" terlebih dahulu.

Untuk menyingkat waktu akhirnya kami putuskan segera mengurus perizinan, maklum Pulau Sempu merupakan pulau konservasi yang tidak boleh sembarang orang pergi kesana kecuali untuk tujuan penelitian. Dengan berbagai pertimbangan kami putuskan untuk jalan secara berombongan tanpa memakai jasa seorang pemandu jalan. Lalu dengan menyewa sebuah perahu nelayan kami diantarkan menuju ke Teluk Semut yang merupakan ujung dari Pulau Sempu. Menurut info yang kami peroleh, perjalanan dari Teluk Semut menuju Segara Anakan memakan waktu sekitar 2-3 jam. 


Perjalanan yang sebenarnya baru akan kami mulai, trek yang menantang dengan jalanan berlumpur menjadi hambatan utama kami. Namun setelah ± 3 jam berada ditengah hutan kami tak jua sampai ke tempat tujuan, dan hal yang paling diluar dugaan terjadi. Salah seorang teman perempuan kami tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Entah apa yang terjadi dengannya, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya gatal-gatal dan memerah. Setelah berdiskusi, kami putuskan untuk istirahat dan memasang tenda ditengah hutan sembari memberikan pertolongan kepada teman kami tersebut. Malampun semakin larut, kami putuskan untuk bergantian berjaga di sekitar tenda untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Maklum Pulau Sempu merupakan pulau yang tak dihuni oleh manusia kecuali binatang buas semacam panther, kucing hutan, dan monyet liar.

Sepanjang malam berjaga kami terusik oleh suara-suara aneh,  menurut salah satu teman kami suara tersebut berasal dari monyet liar yang berencana untuk mengambil barang perbekalan kami. Lalu untuk mencegahnya kami mematikan obor yang menyala agar tidak diketahui keberadaan kami oleh monyet liar tersebut. Dan akhirnya setelah fajar menjelang teman kami yang tadinya sakit mulai berangsur-angsur lebih baik. 


Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju danau Segara Anakan dan tidak berapa lama kamipun sampai. Sungguh keindahan alam yang luar biasa, segala rasa lelah kamipun terbayar akan pemandangan yang disuguhkan. Segara Anakan berbatasan langsung dengan Samudera  Hindia, karena sebenarnya air danau tersebut berasal dari air laut Samudera Hindia. Air tersebut masuk melalui lubang besar pada sebuah karang di tebing bagian tenggara, sehingga saat ombak masuk air akan terlihat begitu indah bak semburan sang Naga. Di Segara Anakan kita masih bisa mendengar suara debur Samudera Hindia menghantam tebing curam di sisi selatan Pulau Sempu. Dan jika kita naik ke atas tebing di sisi Segara Anakan maka akan terlihat hamparan Samudera Hindia yang amat luas. Ini merupakan pengalaman yang tidak akan dapat saya lupakan seumur hidup. 


Penulis : Rudi Albaany

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman